Berikut adalah bagaimana PGRI menjaga keseimbangan dalam dunia mengajar:
Guru sering terjepit di antara idealisme mendidik dan realitas beban administratif. PGRI masuk sebagai penengah:
Advokasi Beban Kerja: PGRI terus mendorong pemerintah untuk menyederhanakan laporan administratif agar guru bisa kembali fokus pada tugas utamanya: mendidik karakter siswa.
Di era kecerdasan buatan (AI), dunia mengajar berisiko kehilangan sentuhan manusiawinya. PGRI menjaga keseimbangan ini melalui:
Penjaga Karakter: PGRI mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologinya, nilai-nilai etika dan empati hanya bisa ditularkan melalui interaksi manusiawi antara guru dan murid.
Profesi yang sehat membutuhkan keseimbangan antara apa yang diberikan oleh guru dan apa yang mereka terima:
Penegakan Kode Etik: Sebagai penjaga keseimbangan, PGRI tidak hanya menuntut hak, tetapi juga memastikan guru menjalankan kewajibannya secara profesional melalui pengawasan kode etik.
Dunia mengajar sering kali goyah karena ketakutan guru akan kriminalisasi saat menegakkan disiplin.
Ketegangan Sosial: PGRI bertindak sebagai mediator untuk meredam konflik di lingkungan sekolah agar proses belajar-mengajar tetap berjalan stabil.
| Dimensi | Ketidakseimbangan (Risiko) | Peran Penyeimbang PGRI |
| Kerja | Terlalu fokus pada administrasi digital. | Mengembalikan fokus pada interaksi murid. |
| Hukum | Guru takut mendidik karena ancaman pidana. | Memberikan perlindungan lewat advokasi LKBH. |
| Ekonomi | Beban tinggi, upah di bawah standar. | Perjuangan lobi kesejahteraan nasional. |
| Status | Sekat antara guru ASN dan Honorer. | Wadah persatuan “Satu Rasa, Satu Jiwa”. |
PGRI adalah jangkar yang menjaga kapal besar pendidikan Indonesia agar tidak oleng saat diterpa badai transformasi. Dengan menjaga keseimbangan antara perlindungan, peningkatan kompetensi, dan perjuangan hak, PGRI memastikan guru dapat mengajar dengan tenang, berwibawa, dan visioner.